Sang Pemahat Batu (sebuah pelajaran)

26 08 2008

bukan….ini bukan tentang pemahat batu yang kemudian disembah oleh manusia pada jaman dahulu kala, atau pembuat berhala laknatullah itu.sekali lagi bukan. tapi ini tentang pemahat batu yang akhir2 ini sering saya lihat dipinggir jalanan Ibukota yang penuh debu dan asap hitam dari kendaraan umum dan kendaraan lainnya, dan sungguh bukan udara yang baik untuk dihirup oleh sistem pernafasan yang  sempurna tanpa cela ini.

dan kemarin sepulang kantor, seperti biasa, bukan ibukota namanya kalo tidak menghadirkan kemacetan di hampir setiap sudut kota, apalagi di jam2 sibuk seperti saat ini. saat dimana sebagian orang telah lelah dengan kerjaan ,yang mungkin saja, telah menguras tenaga dan pikirannya. saat yang ditunggu2 bagi sebagian orang karena mereka sebentar lagi akan kembali berkumpul dengan keluarganya, bisa menikmati malam dengan tenang tanpa harus menanggung perut lapar karena belum makan seharian. namun rupanya hal ini tidak berlaku bagi pemahat batu itu. mukanya yang pucat, menandakan kelelahan karena telah seharian berjalan, dan tentu saja memanggul batu2 hasil pahatannya. bajunya yang kumal, menandakan betapa ia tak sanggup membersihan diri karena waktu baginya teramat mahal tuk sekedar mengganti baju dan berdandan. atau justru keadaanlah yang memaksanya untuk tidak melepas bajunya karena sudah tak ada lagi pakaian ganti baginya?mungkin.

sore itu aku liat lagi. ya aku hanya bisa melihat sepintas lalu, karena padatnya lalu lintas yang memaksaku untuk tidak menghentikan sepeda motorku. seperti biasa, Jakarta sering membuat orang latah, ya benar-benar latah. maaf bukan latah seperti mpok atiek, tapi latah untuk mengikuti pengendara di depannya, entah itu ketika mereka tetep berjalan ketika lampu lalu lintas  masih menyala merah, atau malah latah untuk ikutan berjalan di jalur yang tak seharusnya, entah itu di jalur busway, atau malah jalan trotoar yang ditujukan untuk pejalan kaki. ya itulah Jakarta, dan saya pun tak malu mengakui kalo saya juga sering latah.

kembali ke pemahat batu yang beberapa hari ini sering lihat. sore itu ia tengah istirahat di trotoar, tetap dengan pakaian lusuhnya, entah ia sudah ganti, atau masih baju yang kemaren ia kenakan, aku tak memperhatikannya. ia terduduk lemah di pinggir jalan itu. entahlah, mungkin ia sedang berdoa, dan berharap semoga ada pembeli yang sudi melirik dagangannya. atau hanya istirahat untuk sejenak melepas lelah. lelah karena dunia modern saat ini tak memberikan ruang gerak yang leluasa untuknya. ya, karena dunia modern telah merubah segalanya jadi mudah, jadi praktis dan hampir semuanya elektrik, sehingga para pemahat batu tak lagi diperlukan. tapi aku salut, karena mereka masih bertahan dengan profesinya sebagai pemahat batu, meski lelah, meski mungkin hasilnya tak seberapa, namun dengan usahanya, dengan keteguhan hatinya untuk tidak menengadahkan tangan-tangan hanya demi belas kasihan orang. aku salut atas usaha mereka. semoga Allah memberikan yang terbaik baginya.amin.

di sore yang lain, saya kembali menemukan pemahat batu, bukan hanya seorang tetapi dua orang. ya dua orang pemahat batu dengan hasil pahatannya di hadapannya. yang satu tengah tertidur dipinggir jalan entah beralaskan apa, dan satunya duduk di sebelahnya. lagi2 saya hanya bisa melihat dan berdoa semoga mereka diberi ketabahan dalam menjalani hidup ini. sekali lagi saya berdoa mudah2an mereka (dan saya) diberi keteguhan iman agar senantiasa bisa bersyukur pada-Nya, atas nikmat-Nya, atas segalanya yang diberikan-Nya. ya, kalo hanya melihat ke atas, saya tak akan pernah bersyukur, karena di atas langit masih ada langit. dan ketika saya bisa melihat ke bawah mudah2an sabar dan syukurlah yang saya ucapkan, yang saya lakukan.


Tindakan

Information

Satu tanggapan

28 08 2008
hanggadamai

yuk mari kita bersyukur apa yg sudah diberikan Yang Maha Kuasa

Tinggalkan komentar